Selasar

Selasar adalah ruang antara. Ia bukan ruang utama yang bising, juga bukan halaman belakang yang sepenuhnya sunyi. Di selasar, orang berhenti sejenak—mengamati, menimbang, lalu memutuskan apakah akan masuk atau pergi.

Platform ini lahir dari kebutuhan akan jarak. Jarak dari hiruk-pikuk opini instan, dari keberpihakan yang tergesa, dan dari keyakinan yang sering kali lebih dulu berteriak sebelum sempat diuji. Di sini, tulisan tidak dikejar kecepatan, tetapi ketelitian.

Selasar tidak menjanjikan jawaban yang menyenangkan semua pihak. Ia hanya berusaha menjaga satu hal: agar kritik tidak kehilangan martabat, dan keberpihakan tidak menanggalkan nalar.

Esai dan opini yang dimuat berangkat dari kegelisahan atas etika publik, agama, kekuasaan, dan relasi sosial yang kerap disederhanakan. Dengan bahasa yang ditahan dan emosi yang dikendalikan, Selasar memilih berdiri di pinggir—cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk berpikir.

Tulisan-tulisan di sini adalah catatan personal. Ia tidak mewakili institusi, organisasi, atau kelompok mana pun. Satu-satunya tanggung jawabnya adalah pada akal sehat dan nurani publik.

Selasar tidak berambisi menjadi panggung. Ia cukup menjadi tempat singgah, bagi mereka yang masih percaya bahwa berpikir pelan adalah bentuk lain dari keberanian.

Swing Voter

Dalam Collins English Dictionary disebutkan bahwa A swing voter is a person who is not a firm supporter of any political party, and whose vote in an election is difficult to predict. Swing voter adalah orang yang bukan pendukung kuat partai politik mana pun, dan siapa yang akan dipilih dalam pemilihan, sulit diprediksi.

Swing voter akan kembali beraksi pada 2024 di acara pemilihan kepala negara, kepala daerah tingkat provinsi maupun kabupaten juga kota di Indonesia. Mesin-mesin partai kembali akan gigit jari harap-harap cemas, mungkin sampai stres juga menanti aksi para swing voter ini, yang sudah mereka bujuk rayu sedemikian rupa untuk mendukung calon usungannya, kadang dibumbui black champage dan bahkan “serangan” amplop (masih adakah ?).

Setiap swing voter biasanya sudah punya tolok ukur sendiri, betapa pun anehnya. Normatif, seperti mengira-ngira mana pemimpin yang bakal adil, yang kira-kira akhlaknya mantes, yang kira-kira bakal memenuhi janji kampanyenya, yang keliatan kerjanya, mungkin sedikit terpengaruh kampanye atau acara debat di TV dan seterusnya. Nyeleneh juga tak masalah, pilih yang cakep-ganteng, anak muda zaman now, milih yang belum ubanan juga boleh, milih yang bau-bau artis sah atau cocok gaya-gaya militer sah, ngga suka sama partainya juga boleh atau menghubungkannya dengan isu-isu terkini dan seterusnya. Mungkin, masih banyak lagi tolok ukur untuk menentukan pilihan yang menjadi rahasia dapur para swing voter, tergantung latar belakang dirinya yang bermacam-macam.

Pemilu bagi swing voter mungkin merupakan hal yang mengasyikan dan disambut dengan santai diotak-atik layaknya kode buntut, dan pas nyoblos diberi libur pula.

Begitulah, partai-partai politik di Indonesia diperkirakan harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan sekitar 40% calon pemilih tidak loyal atau swing voter jika ingin meraup suara sebanyak mungkin.

Berdasarkan hasil survei lembaga riset dan konsultan Saiful Mujani, mengungkapkan perpindahan dukungan sebesar 38,4% dari pemilih partai tertentu ke partai lainnya.

“Ini merupakan swing (ayunan) yang besar, dan membuat persaingan partai sangat dinamis,” kata Direktur Utama Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan.

Tapi mengapa swing voter banyak dijumpai di Indonesia? “Di Indonesia, party identification (ikatan psikologis dengan partai) itu lemah atau rendah, dan termasuk yang paling rendah di dunia,” ungkap Djayadi.

Temuan SMRC mengungkapkan bahwa kedekatan psikologis dengan partai itu hanya sekitar 11,7%, jadi, menurut Djayadi, hanya 1 dari sekitar 10 orang Indonesia yang punya ikatan psikologis kuat dengan partai tertentu. (Baca selengkapnya di BBC Indonesia).

Menurut saya sih, tidak mengherankan juga. Partai-partainya sendiri “main ayunan” sana-sini, suka-suka kepentingan politik-kekuasaan mereka. “Tidak ada kawan, lawan dan koalisi yang abadi. Hanya ada kepentingan politik-kekuasaan, itu yang abadi.” Gitu kan ? Oke, dibawa happy aja deh dan selamat nyoblos. Oiya, jangan lupa berdo’a.

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُناَ

Allahumma lâ tusallith ‘alainâ bidzunübinâ man lâ yakhâfuKa walâ yarhamunâ.
Artinya: “Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah Engkau kuasakan (jadikan pemimpin) atas kami karena dosa-dosa kami orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.’’

Geger Nasab Ba’alwi

Cukup lama mengikuti polemik nasab Ba’alawi sampai pada akhirnya kasus ini makin terbuka, melebar, makin menjadi-jadi tidak lucunya, makin geger dan ngga ada gergeran nya. Ini serius.

Kalau dihitung-hitung sih ada beberapa pusaran yang menyedot perhatian netizen termasuk saya di dalamnya.

Satu. Tentu saja tentang ketersambungan nasab Ba’alawi itu sendiri ke Kanjeng Nabi Saw. Tesis KH Imaduddin Ustman menjadi triger utamanya. Berangkat dari metode penelusuran kitab. Mulai kitab hadits, kitab nasab sampai sejarah. Belum terdengar ada antitesisnya, bahkan semakin terpuruk dengan munculnya penelusuran dari sisi filologi oleh DR. Menachem Ali yang justru menguatkan tesis KH. Imaduddin al Bantani. Bertambah runyam lagi dengan munculnya penelitian yang dilakukan KH. Alawi al Bantani. Belum lagi makin banyak Wangsa Nusantara yang muncul ke permukaan mengungkap identitas nasab masing-masing yang merasa nasab leluhur telah dibelokkan klan ba’alwi.

Hanya perlu digarisbawahi mengenai tesis ini, hendaknya adil sejak dalam pikiran. Jika tesis Kiai Imad ini metodenya justru menguatkan ketersambungan nasab sebuah klan pada Nabi saw, pasti tesis Beliau disebut bagus dan dipuja-puji. Hanya saja kali ini, metode itu saat diterapkan pada klan Ba’alawi, menunjukkan hal sebaliknya. Jadi aja rame.

Kemudian melebar ke metode test DNA yang diperkenalkan oleh peneliti dari BRIN,  Dr. Sugeng, yang lagi-lagi  menguatkan tesis KH Imaduddin. Andai test DNA dilakukan beberapa orang habaib, sekalipun hasilnya sesuai harapan mereka, itu tidak serta-merta bisa menumbangkan tesis Kiai Imad dan jadi pembenaran bagi seluruh klan Ba’alawi. Jika ingin fair, tiap keluarga habib melakukan test DNA masing-masing.

Jika, misalkan tesis KH. Imaduddin bisa terbantahkan, apakah mereka juga bisa membantah tracking DNA ? Pembahasan masalah ini sepertinya akan mandeg di titik test DNA.

RA sendiri, disdukcapil, otoritas tunggal klan Ba’alawi yang hanya ada di Indonesia itu, tidak diketahui apakah bisa crosscheck dengan organda/naqobah lain. Beda dengan trah lain seperti trah Wali Songo, selain dicatat keluarga, ada catatan lain, di isbat naqobah lain, di luar negeri. Ada catatan pembanding, bukan catatan klaim kelompok sendiri. Saya pikir model ini baru fair.

Bagi saya, nothing to loose, mengikuti alQuran dan hadits itrah, ahlul bayt atau ahlul kisa adalah itu-itu juga, 5 orang keluarga inti sang Nabi saw. Dan itu takkan mungkin salah, dipersalahkan, meleset atau perlu diperdebatkan kewajiban mencintainya.

Dzuriat yang bersambung nasab pada Nabi saw mulai kurun salaf hingga kini sangat banyak. Kiai-kiai nusantara juga banyak yang bersambung nasab ke kanjeng Nabi saw. Ilmu dan akhlaknya baik, kecintaan pada negeri ini tidak diragukan. Apakah salah, memilih mereka untuk dijadikan pedoman hidup atas ajaran Islam ?

Dua. Narasi sejarah oleh klan Ba’alawi. Saya pikir cuma sejarah berdirinya NU yang digerogoti, dan itu sudah sejak lama tapi dibiarkan, bahkan belakangan berhasil dicetak jadi buku ajar. Lalu ada sejarah JATMAN, penggalan sejarah negara ini, kemudian berturut-turut mengikuti podcast bang Haji Rhoma dengan Prof. Anhar, Kiai Syarif Rahmat, Raden Dibyo dan Gus Abbas. Kesimpulanya, itu semua, asli ngga ada lucu-lucu nya !

Dalam sebuah WAG saya sempat membalas komentar bahwa sejarah NU tidak akan goyah, banyak buku tentang sejarah NU, banyak orang yang hafal sejarahnya dan ada museum nya pula. Saya tidak sepakat. Masalahnya, ketika mereka memulai perusakan sejarah itu, pasti sudah melihat celah keamanannya, pasti sudah melihat kemungkinannya.

Itu mengingatkan saya atas cerita tutur, sas-sus, gosip yang masih lebih disukai ketimbang baca buku atau main ke museum. Di sisi lain propaganda hoax terus menerus yang dijejalkan lama-lama akan diakui sebagai kebenaran juga. Lalu, apa gunanya setumpuk buku dan gedung kosong museum dibandingkan isi kepala zombie hoax ? Bikin rusuh, bukan gaduh lagi. Butuh effort berat untuk menyembuhkannya. Coba aja cek para mukibin mereka, dicekoki apa aja mereka telan.

Para pemilik sejarah yang berkaitan dengan nasab wali songo maupun lainnya lebih dulu bereaksi melakukan pengecekkan dan melawan. Bagaimana bisa mereka yang beranak-pinak dalam klan mereka sendiri kemudian ujug-ujug ada di trah Mataram Jogja, anak terminal Caheum atau Betawi, misalnya. Jangan-jangan sudah terbesit pula nama Betawi diklaim berasal dari kata ba’alawi seperti nasib beberapa nama jalan di Jakarta.

PBNU pun, akhirnya bereaksi. Baru mencomot sak uprit dari porsinya, saya masih menunggu gebrakan selanjutnya. Tapi dari situ harusnya sudah cukup, bisa ditarik benang merah, seeetttt… ke sejarah lainnya di luar sejarah NU.

Tiga. Metode dan konten dakwah klan Ba’alawi. Ini sudah jadi rahasia umum cara-cara dakwah sebagian mereka melewati adab pada umumnya. Konten dakwah pun rasanya ngga kalah menggelikan, memaksa pendengarnya untuk menerima dengan takaran “percaya atau tidak” bukan akal apalagi hati.

Memang, dipastikan tidak bisa pukul rata begitu saja. Oke lah, oknum. Oknum yang oleh sebagian orang tetap tidak dibenci kelakuannya, sungguh baik sekali, semoga tidak hilang keberanian nahi munkarnya atau malah jadi nahi ma’ruf.

Namun, patut disayangkan atau mungkin dipertanyakan mengapa mayoritas mereka yang katanya baik-baik ini diam? Sepertinya minim terdengar dari tokoh-tokoh besar klan ini upaya untuk membenahi sesama mereka sendiri dan ada bekasnya, tak terkecuali RA.

Apakah itu bisa disimpulkan orang awam macam saya sebagai “ah, sama aja berarti” ?

Keempat, sepertinya sudah banyak dilakukan oleh keluarga Wali Songo, kesultanan nusantara, pondok pesantren, pahlawan, ahli sejarah dst sampai pekuburan. Terpaksa membuka kembali dokumen yang mungkin sudah berdebu, dokumen yang disembunyikan, dokumen yang tak ingin diketahui orang lain kecuali keluarga. Cek ulang silsilah versus silsilah yang beredar luas dimasyarakat saat ini, adakah pencangkokan dst ? Membentuk kembali paguyuban keluarga, mendekatkan kembali yang jauh dan terserak. Kemudian serentak bersih-bersih. Menarik juga melihat para menak menampakkan diri, serasa kembali ke masa lalu.

sekian, sampurasun.

Adam, Hawa, Setan dan Buah Khuldi

Entah kenapa beberapa hari ini selalu teringat kisah tragedi buah Khuldi. Saya coba abaikan, tapi tidak berhasil. Jadilah gibahin setan di medsos 😁.

Masyhur diketahui iblis adalah bapak moyangnya kesombongan. Nasab dan sanad kesombongan dijamin bersambung kepadanya. “Ana khoirun minhu”, “aku (setan) lebih baik darimu (Adam)”.

“Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah’.” (QS Al-A’raf: 12).

Walhasil, setan pun dipecat sebagai penghuni surga.

Meskipun demikian Setan sempat keluyuran, sesuai dil-dil an dengan Allah, menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah Khuldi yang dilarang Allah SWT. Jangankan memakan, mendekati pohonnya pun tidak boleh (Al Baqarah : 35).

Triknya, Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan memberi janji “halu”. Setan berjanji, jika memakan buah Khuldi keduanya akan naik jabatan menjadi malaikat, atau menjadi kekal selamanya di surga; tidak akan mati sampai kapan pun. (At-Tanthawi, Tafsîrul Washît, juz V, halaman 257).

Selain menawarkan “halu”, setan juga mencaplok nama Tuhan. Menurut Ibnu ‘Abbas, alasan Adam dan Hawa bersedia memakan buah Khuldi adalah karena setan berjanji dengan menyebut nama Allah. Mereka meyakini, janji dengan menyebut nama Allah tidak mungkin merupakan kebohongan. Namun dugaannya salah, setan terlalu licik. (Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, [Beirut; Mu’assasah ar-Risâlah: 2006], juz I, halaman 178).

Dalam bahasa Gus Baha, Adam dan Hawa memandang, menghormati, segan dengan nama Allah yang disebut-sebut setan sehingga mau saja disuruh makan buah Khuldi oleh setan.

Setelah Memakan Buah Khuldi itu Allah menegur keduanya, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (QS al-A’raf: 22).

Sekalipun Adam dan Hawa berkelit karena mereka ditipu setan, tetap saja keduanya bersalah dan dihukum karena sebelumnya sudah turun petunjuk kepada keduanya.

Hari ini peran Adam, Hawa juga setan mungkin terus berulang. Ada penipu yang sombong dan ada korban yang tertipu.

Post-truth : How Bullshit Conquered the World

Saya masih penasaran untuk menulis mengenai “Post-truth”, sebuah prilaku dishonesty and deception, gejala ketidakjujuran yang dipadukan dengan penipuan. Upaya untuk menempatkan sesuatu yang tidak benar agar menjadi seolah-olah benar. Untuk mencapai tujuan itu, fakta-fakta diabaikan dalam mempengaruhi dan membentuk opini publik. Gantinya, disebarkanlah fakta-fakta palsu yang menggerakkan sentimen emosi publik, semakin besar dan tak masuk akal kebohongannya akan semakin baik, itu salah satu ciri khasnya. Ciri lainnya, post-truth berpegang pada anggapan bahwa lebih mudah menyampaikan pesan atau mencapai apa yang diinginkan dengan cara membuat publik marah, benci, kesal, sebal dan sejenisnya (meskipun) dengan cara berbohong. Cara itu dianggap lebih berpengaruh ketimbang menyampaikan fakta-fakta, emosional dan menyesatkan.

image

Post-truth di atas memperoleh percepatan penyebaran dengan tersedianya social media dan kadang media konvensional. Namun, post-truth sangat mengandalkan media sosial. Propagandanya di desain sesuai dengan sifat media sosial yang ringkas, gratis, mudah diperbincangkan, mudah disebarluaskan, mudah dijangkau dan diantarkan langsung ke hadapan pemirsanya yang jumlahnya entah berapa banyak pada detik ini. Mirisnya, akan semakin cepat jika disebarkan ditengah-tengah masyarakat dengan literasi rendah seperti di Indonesia.

Karena itu, saya menempatkan post-truth ini di atas fake news, hoax dan sejenisnya. Bahkan post-truth ini biang itu semua. Post-truth adalah “aktor intelektual”, pola pikir, filosofi dan mesin produksi hoax sampai black champagne.

Indonesia pun tidak luput dari munculnya generasi post-truth ini untuk bermacam kepentingan khususnya untuk menyebarkan ideologi dan pertarungan politik, kalau saya amati sepertinya mulai masif saat Pilpres 2014 lalu. Mulai saat itu Indonesia mulai terbiasa dengan salah satu produknya, hoax. Akibatnya, Indonesia terancam jatuh pada kekacauan sangking begitu banyaknya antagonisme, sinisme, kebencian, perselisihan, perpecahan dan terbuangnya nalar gara-gara penyebaran hoax ini. Sudah terasa bukan ?

image

Oiya, judul notes saya tulis, “Post-truth : How Bullshit Conquered the World“ sebetulnya sebuah judul buku yang ditulis oleh James Ball. Dalam resensi yang dia tulis sendiri, bukunya bercerita tentang “ two shock events – the Brexit vote and Donald Trump’s elevation to US President “ , dua kejadian yang mengejutkan seisi dunia. Peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika. Dua peristiwa tersebut tidak lepas dari pengaruh post-truth yang dia sebut sebagai yang dia sebut sebagai ‘bullshit’ untuk menggambarkan betapa “bau”, menjijikkan dan jahatnya post-truth yang has devalued truth. Tidak lagi menghargai kebenaran, isinya melulu dusta dan tipu daya.

“This is bigger than fake news and bigger than social media. It’s about the slow rise of a political, media and online infrastructure that has devalued truth.”

Ada buku lain tentang post-truth, judulnya “Trump and a Post-truth World” ditulis oleh Ken Wilber seorang pemuka ahli psikologi angkatan kelima yang lama menghilang namun tiba-tiba keluar dari pertapaan pasca terpilihnya Trump sebagai presiden dan mulai menuliskan keprihatinannya tentang bangsa Amerika yang telah terjatuh pada belitan dusta post-truth dalam pemilihan Presiden.

image

“The world is in turmoil. As populist waves roil the Brexit-bound U.K., along with Europe, Turkey, Russia, Asia–and most visibly, the U.S. with the election of Donald Trump–nationalist and extremist political forces threaten the progress made over many decades. Democracies are reeling in the face of nihilism and narcissism. How did we get here? And how, with so much antagonism, cynicism, and discord, can we mend the ruptures in our societies?

“… dan yang paling jelas, AS dengan pemilihan Donald Trump – kekuatan politik nasionalis dan ekstremis mengancam kemajuan yang dibuat selama beberapa dekade. Demokrasi terguncang dalam menghadapi nihilisme dan narsisisme. Bagaimana kita bisa sampai disini? Dan bagaimana, dengan begitu banyak antagonisme, sinisme, dan perselisihan, dapatkah kita memperbaiki perpecahan di masyarakat kita? ”

Saya akan sedikit bercerita tentang bullshit yang menghantam Amerika dan Inggris. Pada saat kampanye, tim sukses Trump pernah melontarkan pernyataan bahwa Hillary telah (tengah?) membangun sebuah penjara rahasia dengan kapasitas 3 juta tahanan di Alaska (tanpa ada yang mampu membuktikan bangunan itu ada) lengkap dengan 30 ribu pisau guillotine untuk menjagal pendukung Trumph. Ajaibnya, dipercaya ! Dalam jangka waktu 2 jam, hoax tersebut telah dibaca 23K (23 ribu). Sangking kebangetannya, hoax itu ternyata mampu melumpuhkan nalar banyak orang. Padahal, kalau dibandingkan, Boeing yang merupakan pemegang rekor pabrik terbesar di muka bumi, nyatanya hanya mampu menampung 1 juta manusia dengan cara menumpuknya sedemikian rupa di berbagai tempat tak terkecuali toilet.

Tak kalah serunya adalah saat pelantikkan. Trump mengklaim bahwa pelantikkannya sebagai presiden Amerika adalah yang terbesar disepanjang sejarah Amerika dengan dihadiri 1,5 juta orang. Ketika media seperti NBC, Koran New York Times, dan CNN ramai-ramai mengkritiknya dengan menyampaikan fakta kalkulasi ahli sampai jumlah tiket pengguna transportasi publik D.C Metro bahwa jumlah yang hadir tidak lebih dari 1/3 jumlah yang hadir saat pelantikkan Obama, gedung Putih tak bergeming. Pokoknya 1,5 juta orang ! Sound similiar ?

Ketika kedua kubu dipertemukan, Kellyanne Conway, penasihat senior Presiden AS Donald. J. Trump mengatakan bahwa yang 1,5 juta itu bukan kebohongan tapi sebuah “Alternative Facts”, fakta-fakta alternatif. Conway mengatakan hal itu dalam wawancaranya dengan Chuck Todd, pembawa acara program “Meet the Press” di stasiun televisi NBC. Conway, yang menjadi manajer kampanye Trump saat pilpres mengatakan kepada Todd, “Anda (media) menyampaikan kebohongan, dan mereka – Sean Spicer, sekretaris pers kami – memberikan fakta-fakta alternatif.” Todd membalas dengan mengatakan, “Fakta-fakta alternatif bukanlah fakta-fakta. Itu kebohongan.”

Dan selanjutnya, kebohongan hanya bisa ditutupi dengan kebohongan. Sepanjang 347 hari sejak menjabat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membuat 1.950 pernyataan keliru atau palsu. Dilansir dari CNN, Selasa (2/1/2018), blog Fact Checker di The Washington Post menghitungnya secara rata-rata ada 5,6 klaim pribadi per hari yang dilontarkan Trump. Dalam hitungan matematika, berarti Trump akan mengucapkan lebih dari 2.000 klaim keliru hingga pekan depan. Namun, bisa saja terjadi lebih cepat jika Trump memutuskan jumpa pers secara dadakan. The Washington Post juga menghitung ada 24 kebohongan dalam wawancara 30 menit Trump dengan reporter New York Times, Michael Schmidt, beberapa waktu lalu (Kompas.com).

Kita nyebrang ke Eropa, daratan Inggris. Pertengahan 2016 dunia dikejutkan oleh hasil akhir referendum Uni Eropa (UE) di Inggris, Kamis (23/6/2016), menunjukkan, 51,9 persen pemilih menghendaki negara itu keluar dari blok UE, setelah 43 tahun bergabung. Isu-isu pengungsi yang ditampung Turki digoreng sedemikian rupa untuk dijadikan hoax seperti Inggris membayar 400 juta pound per minggu dan jika Inggris tidak segera keluar dari Uni Eropa maka Turki akan mengirimkan 3 juta pengungsi ke Inggris.

Hitler New Games

image

Bahwa kebohongan yang berhasil menaklukkan dunia sebetulnya telah memiliki sejarah panjang. Contoh paling menarik adalah kisah kebohongan demi kebohongan seorang kopral kecil bernama Adolf Hitler yang berhasil menguasai negeri para filosof besar, Jerman. Jerman ditaklukan rumusan Hitler, “Kebenaran adalah kebohongan dikalikan 1000”. Jika kebohongan diulang-ulang sedemikian rupa, publik akan menganggapnya sebagai kebenaran. Argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik Big Lie, argumentasi yang didasarkan pada kebohongan.

Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi, menambahkan, “If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.” Sebarkan berita kebohongan yang cukup besar secara terus menerus, kemas dengan cara yang terbagus, niscaya ia akan menjadi kebenaran.

image

Bagaimana sebuah post-truth dibuat oleh seorang tokoh. Bagaimana “langit biru” menjadi “langit kotak-kotak”

Games ala Hitler yang mengambil nama baru, post-truth, masih melanda Indonesia. Raja tega kemungkinan masih akan terus memproduksi kebohongan-kebohongan untuk mencapai berbagai tujuannya, fakta-fakta yang mereka sebut sebagai fakta “alternatif” mungkin akan kembali bertebaran dan media sosial akan kembali riuh-rendah. mungkin akan kembali bertebaran dan media sosial akan kembali riuh-rendah. Siapkah kita, khususon Warga NU ?

Menutup tulisan ini, langkah yang dianjurkan penulis untuk membendung produk-produk post-truth seperti hoax antara lain :

  • Mengidentifikasi dan evaluasi sumber-sumber penyebar produk post-truth melalui website, media sosial baik perorangan, kelompok atau organisasi apapun.
  • Jalankan “Sistem Dua”. Berasal dari “Thinking Fast and Slow” Daniel Kahneman. Maksudnya jangan langsung klik like atau share ketika membaca sebuah kiriman status, video dan sejenisnya dari jejaring pertemanan kita. Lihat dan berhenti sejenak terlebih dahulu. Cek dan cek hal ini : (a) Hati-hati dengan judul provokatif (b) Cermati alamat situs (c) Periksa fakta (d) Cek keaslian foto (e) Ikut serta grup diskusi anti-hoax (f) Jangan tinggalkan sama sekali media konvensional, terkadang membantu juga untuk cek suatu berita (g) Jangan ragu untuk melaporkan hoax. Baru putuskan kalau berita tersebut cukup sampai di tangan kita atau diteruskan.
  • Isinya melulu ujaran kebencian ? Stop sampai tangan kita saja, tidak perlu diteruskan.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq,

#opini #posttruth

Post-truth : Dishonesty and Deception in Contemporary Life

Ketika seorang netizen beberapa tahun lalu (2021) tidak mampu beradu argumen kritis tentang isi obrolan Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, saat bertemu wakil presiden Amerika Mike Pence beberapa waktu lalu, mereka melepas tuduhan bahwa PBNU menerima uang 2 trilyun dari pemerintah AS yang dikaitkan dengan pemberantasan radikalisme di Indonesia. Tanpa menyebutkan sumber data tersebut.

Tidak cukup dengan tuduhan tanpa data itu, Ketua PBNU dan Ketua GP Ansor giliran mendapat tuduhan sebagai antek Trump. Sebuah argumentum ad hominem atau malah abusive ad hominem, argumen didasarkan pada pribadi atau karakter seseorang. Hal itu adalah upaya untuk menyerang kebenaran suatu klaim dengan menunjukkan sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut. Dan itu bertambah parah jika sifat negatif yang ditunjukkan juga asal njeplak saja.

Penalaran ad hominem ini boleh jadi sebuah kekeliruan atau kesengajaan argumentasi yang ditujukan untuk mengacaukan pikiran pembacanya (kasus status di media sosial). Pembaca tidak lagi mencermati isi kunjungan petinggi PBNU ke Amerika, namun cukup dijejalkan mengenai pribadi-pribadi yang punya lakon yang sudah dicitrakan sedemikian jeleknya.

Pembaca digiring untuk tidak memeriksa isi obrolan dari pertemuan itu karena isinya ternyata baik-baik saja dan mungkin tidak ada yang perlu dikritik. Pembaca digiring langsung untuk mengabaikan isinya dikarenakan reputasi petinggi NU dicitrakan sedemikian jelek setelah dilabeli sebagai antek Trumph. Pembaca tidak perlu tahu jika dalam pertemuan tersebut, Katib Aam organisasi massa terbesar di dunia itu meminta pemerintah Amerika untuk memikirkan kembali pemindahan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Bahasa gampangnya, “Masa bodo Kyai Yahya mau ngomong apa sama Pence, yang jelas pokoknya itu salah karena dia antek Trumph.” Ada yang dilewatkan bukan ?

Terakhir, tuduhan seharga 2 trilyun (juga sebelumnya pernah ada tuduhan sebesar 1,5 trilyun, total 3,5 trilyun) dan argumentum ad hominem maupun abusive ad hominem yang disebarkan melalui medsos ini adalah apa yang dikenal sebagai gejala yang disebarkan melalui medsos ini adalah apa yang dikenal sebagai gejala post-truth. Gejala ketika kebenaran telah tidak dibutuhkan, cukup dilipat rapi dan disimpan dalam lemari pikiran lalu digembok pula. Tidak ada itu fakta dan data sungguhan, tidak perlu untuk objektif, apalagi tabayun. Semua tentang menyuarakan kebenaran sebuah berita sudah usai dan usang tak terpakai. Dishonesty and deception in contemporary life, gejala ketidakjujuran yang dipadukan dengan penipuan yang melanda kehidupan kontemporer saat ini.

Sebagai gantinya, disodorkanlah “alternative facts”, fakta alternatif yang entah dipungut darimana dan tidak jelas asal-usulnya, apalagi bisa dipertanggungjawabkan. Alternative facts memanipulasi emosi lalu disebar dengan cepat melalui medsos untuk meracuni isi kepala hingga kacau balau , khususon , dalam memandang Nahdlatul ‘Ulama. Karena itu, kenalilah baik-baik modus jenis ini.

Oiya, saya suka gaya Ansor dan Banser menangani ini. Mendatangi sumbernya, diajak ngopi bareng, ngobrol-ngobrol dan selesai, seperti yang sudah-sudah. Tapi ada yang kurang, minta pelakunya meralat apa yang telah dikatakan di medsos, kalau perlu dia harus meralat sampai orang terakhir yang menerima perkataannya. Ibaratnya, dia harus memunguti seluruh bulu kamoceng, pembersih debu dari bulu ayam, yang telah dia cabuti lalu dia sebar dan telah tertiup angin entah sampai mana.

Sekedar referensi :
http://www.nu.or.id/post/read/90747/kepada-pence-nu-minta-as-pikir-ulang-soal-kedubesnya-di-yerusalem
https://www.facebook.com/HWMIcyber/posts/1372001516234237
http://www.dutaislam.com/2018/05/hoax-tuduhan-pihak-as-akan-gelontorkan-dana-2-triliun-ke-pimpinan-nu-untuk-menangkal-terorisme.html
http://www.dutaislam.com/2018/05/dengan-sumber-hoax-irham-fahmi-kegirangan-fitnah-pbnu.html?m=1

Dan Jangan Kau Ikuti…

Hoax, tidak dapat dipungkiri telah menjadi kosa kata populer sehari-hari. Bahkan di sekitar saya sendiri, kata “hoax” nyaris menggantikan kata “bohong”. Jelas menunjukkan bahwa hoax belum berkurang.

Ingat cerita tentang penggembala yang berdusta ada serigala yang akan menerkam ternaknya ? Sekali, dua kali dan tiga kali itu bisa mengelabui penduduk dan penggembala pendusta itu bisa tertawa lepas menertawakan penduduk yang ditipunya. Kali berikutnya, saat betulan ada serigala dan dia berteriak-teriak minta bantuan penduduk, tak ada yang menggubrisnya. Ternaknya pun habis dimangsa serigala betulan. Beberapa kali diketahui berdusta dan akhirnya ditinggalkan.

Sebetulnya itu jadi pedoman sederhana buat mematikan hoax, toh sudah banyak bukti bahwa hoax yang beredar adalah hoax betulan. Banyak informasi yang terbukti sebagai hoax. Coba saja cari hoax tentang NU, Kiai Said dan pemerintah. Terbaru, dan sangat keterlaluan juga kasar, Kiai Ma’ruf ‘didandani’ menggunakan baju Sinterklas. Kebanyakkan hoax terbongkar sebagai hoax lantaran hasil penyelidikan, pengakuan pelaku sendiri, dikejar Banser maupun kemustahilan yang bisa dikonfirmasi kepada korban.

Sekali lagi, dengan analogi kisah penggembala penipu sudah cukup untuk meninggalkan para penyebar hoax itu. Saya sendiri, menerapkannya, informasi yang saya kenali latar belakangnya dari tukang penyebar hoax, otomatis dikelompokkan hoax dalam otak saya. Wayahna, apa boleh buat, kemarin-kemarin mereka getol saya kenali sebagai penyebar hoax, maka saat ini apa pun omongan mereka, hoax maupun bukan hoax sekalipun saya curigai dan saya kelompokkan sebagai hoax dalam memori saya dan tidak perlu saya ikuti.

Saya pribadi berpegang pada ayat Al-Quran, QS Al-Qolam 68 : 10 – 16. Ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat yang melarang Nabi saw untuk mengikuti orang dengan sifat-sifat buruk seperti tukang bersumpah (palsu), pendusta, penipu, pemfitnah, tukang adu domba, mendustakan ayat-ayat al-Quran. Supaya tidak ngawur, saya kutipkan dari tafsir al-Lubab karya Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Tafsir al-Lubab ini adalah ringkasan dari tafsir al-Misbah, karya masterpiece Beliau.

Berikut tafsir ringkas QS Al-Qolam 68 : 10 – 16 dalam tafsir Al-Lubab

“Untuk lebih mengukuhkan larangan tersebut, Allah swt. menyifati mereka dengan sifat-sifat buruk sambil mengulangi larangan-Nya dengan berfirman: Dan janganlah engkau ikuti setiap penyumpah, yakni yang sedikit-sedikit selalu bersumpah, lagi berkepribadian hina, yakni tidak berbudi pekerti luhur [10], Pencela, yakni banyak mencela pihak lain di belakang mereka, penyebar/penghambur fitnah guna memecah belah anggota masyarakat [11], lagi sangat gemar menghalangi terciptanya kebaikan, atau sangat kikir, juga pelampau batas lagi pendurhaka, yakni banyak dosa terhadap Allah swt. dan sesama manusia [12] dan kasar. Selain itu, yakni yang lebih buruk lagi adalah la populer/ dengan kejahatannya [13]. Sifat-sifat yang disandangnya itu, menurut ayat 14, lahir karena dia adalah seorang yang dikenal serta merasa diri sebagai pemilik banyak harta dan anak-anak yang banyak lagi terpandang oleh masyarakatnya [14]. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah swt.’, ia berkata: -Ini adalah dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala” [15]. Sungguh bejat orang ini. Karena itu, ayat 16 memvonisnya bahwa Kami/Allah swt. akan menandainya di atas belalainya, yakni hidungnya yang panjang [16].

Tanda pada hidungnya itu ada yang memahaminya sebagai luka yang mencederai hidung/muka yang bersangkutan. Ulama yang berpendapat bahwa ayat-ayat di atas berbicara tentang al-Walid bin al-Mughirah, bahwa yang bersangkutan terlibat dalam perang Badar dan ketlka itu hidungnya patah dan ia cacat sepanjang hayatnya. Ada juga yang memahami maksud penanda di hidung itu, sebagai pemantapan dan kesinambungan nama buruknya hina Hari Kiamat. Penyebutan kata belalai dan yang dimaksud adalah hidung bertujuan menggambarkan tersebarnya keburukan itu sehingga tidak dapat disembunyikan sebagaimana hidung tidak dapat disembunyikan. Di sisi lain penyebutan hidung merupakan penghinaan baginya, apalagi dengan menunjuknya dengan kata “belalai”.”

Begitulah.

Masjid Dhirar Vs Masjid Quba

Ada lima fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW menurut Almarhum KH Ali Mustafa Ya’qub, Imam Besar Masjid Istiqlal, yakni tempat ibadah, belajar, musyawarah, merawat orang sakit, dan asrama.

Meskipun demikian, menurut Beliau, ada fungsi yang masih layak untuk dilakukan hari ini, ada yang tidak. Dari kelima fungsi itu, masjid sebagai asrama tidak layak difungsikan. Lainnya masih bisa.

Seiring perkembangan zaman, belakangan fungsi masjid malah bertambah. Sebagian kalangan memanfaatkan masjid untuk mendulang suara partai politik. Masjid difungsikan sebagai tempat kampanye, baik secara terbuka maupun tersembunyi. Entah itu melalui khutbah Jumat, aneka ragam pengajian atau aktifitas lainnya di masjid.

Secara tersurat yang blak-blakan maupun tersirat yang sembunyi-sembunyi, mereka menyampaikan bahwa partainya adalah paling paling top dan jempolan. Sementara partai lainnya jelek. Lebih buruk lagi jika membawa-bawa nama islam. Mengkampanyekan partainya paling islami dan membela Islam. Sementara partai lain adalah musuh agama dan tak layak dipilih. Lebih parah dari itu, mulai saling menjelekkan, menjatuhkan jago masing-masing.

Mereka yang berkampanye ini lupa, masjid adalah tempat berkumpulnya manusia dengan beraneka-ragam latar belakang politik dan partai untuk beribadah. Bukan tidak mungkin ada jamaah yang tersenggol partainya, pandangan politik atau jago yang didukungnya akan tersinggung, menggerutu bahkan mengumpat dalam hati selepas pulang dari masjid ? Beribadah yang sejatinya membawa ketenangan, malah pulang dengan kedongkolan.

Dalam hal ini, pesan Grand Syekh Al-Azhar di PBNU, beberapa waktu lalu, perlu jadi pegangan, seorang Muslim tidak boleh mengkafirkan orang yang shalat, kiblat, kitabnya sama. Seorang Muslim dilarang menyesatkan Muslim lain hanya karena berbeda paham pada sisi furu’iyah, apalagi karena berbeda pilihan partai politik.

Tindakan semacam itu sangat tidak menguntungkan bagi persatuan Islam. Umat menjadi pecah-belah dan bisa menimbulkan permusuhan bahkan adu-domba. Masjid yang semula diharapkan menebarkan kemaslahatan umat, yang terjadi malah sebaliknya, menjadi sumber kemudaratan. Dan itu adalah tindakkan yang sangat tidak disukai Allah SWT. Bukankah Allah pernah melarang Nabi Muhammad melakukan shalat di masjid yang menimbulkan kemudaratan, bahkan menghancurkannya ?

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS. Attaubah [9]: 107)

Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. Attaubah [9]: 108)

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Attaubah [9]: 109)

Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Attaubah [9]: 110)

Hal itu terjadi selepas Perang Tabuk pada 630 M atau 9 H. Ketika Nabi Muhammad akan melakukan shalat di sebuah masjid yang bernama masjid Dhirar. Letaknya tidak jauh dari masjid Quba yang didirikan Nabi Muhammad di Madinah.

“Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirar kepada Rasulullah , pada saat baginda bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah , kami telah membangun masjid bagi orang-orang yang sakit maupun yang memiliki kebutuhan pada malam yang sangat dingin dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan shalat di masjid tersebut. “Kemudian Rasulullah menjawab,” Aku sekarang ingin berangkat berpergian, insya-Allah setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian. “Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk, beliau beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi kabar kepada Beliau tentang masjid tersebut yang mereka niatkan untuk membahayakan kaum muslimin dan sebagai bentuk kekafiran.” Lubabun Nuqul fi asbabin nuzul hlm. 111, Darul Maktabah Ilmiyyah, Syamilah

Peristiwa selanjutnya dicatat oleh al-Thabari seperti berikut:

“Rasulullah berjalan sehingga beliau berhenti di Dhu Awan, sebuah pekan yang perjalananya satu jam siang hari dari Madinah. Orang-orang yang telah membangun Masjid Pembangkang (Masjid ad-Dhirar) telah datang kepada beliau ketika beliau bersedia untuk Tabuk dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah membangun masjid untuk yang sakit dan mereka yang membutuhkan dan untuk berteduh dari hujan dan dingin, dan kami ingin Anda mengunjungi kami dan mendoakan kami di dalamnya. ‘[Nabi] mengatakan bahwa beliau di ambang perjalanan, dan beliau sibuk, atau kata yang berarti tersebut, dan saat mereka kembali, Insya-Allah, beliau akan datang kepada mereka dan berdoa untuk mereka di dalamnya. Bila baginda berhenti di Dhu Awan, berita (wahyu) masjid itu datang kepada beliau, dan beliau memanggil Malik b. al-Dukhshum, saudara dari Bani Salim b. ‘Auf, dan Ma’n b. ‘Adi, atau saudaranya’ Asim b. ‘Adi, saudara-saudara Banu al-‘Ajlan, dan berkata, “Pergilah ke masjid ini yang pemiliknya adalah orang-orang yang zalim dan hancurkan dan bakarlah itu”. Mereka keluar dengan rancak sehingga mereka sampai ke (halaman daerah) Bani Salim b. ‘Auf yang merupakan kabilah Malik b. al-Dukhshum. Malik mengatakan kepada Ma’n, “Tunggu saya sehingga saya membawa api dari kabilahku.” Dia pergi ke kerabatnya dan mengambil pelepah kurma dan menyalakannya. Kemudian kedua mereka berlari sampai mereka masuk ke dalam masjid, bertabrakan dengan orang-orangnya di dalam, lalu membakar dan menghancurkannya dan mereka bubar. Dalam hal ini, ia diturunkan dalam al-Quran ... [Tabari, Jilid 9, Tahun-tahun Terakhir Nabi, m/s 60-61]

Berbanding terbalik dengan masjid Quba’, masjid pertama yang dibangun Nabi. Batu batanya dipikul Nabi Muhammad sendiri hingga tubuh Nabi saat itu sampai penuh debu dan pasir. Tapi Nabi tidak mau para sahabat mengambil beban yang dibawanya. Ia meminta para sahabat agar membawa bahan-bahan bangunan yang lain. Setelah membangun masjid, Nabi mengimami salat secara terbuka bersama para sahabat di Masjid Quba’. Semasa hidupnya, Nabi selalu pergi ke Masjid Quba’, setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Nabi wafat, para sahabat selalu menziarahi masjid ini dan melakukan salat di dalamnya.

Walaupun secara lahiriah masjid Quba’ sangat sederhana namun Allah menyebut masjid ini sebagai masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan sejak awal berdirinya. Sementara orang-orang yang berada di dalamnya adalah orang-orang yang selalu membersihkan diri mereka (QS. Attaubah [9]: 108).

Jadi manakah masjid yang ingin dijadikan pedoman ? Masjid Quba’ atau masjid Dhirar ?

Siapa yang Mengurusi NU, Saya Anggap Santriku

“Siapa yang mengurusi NU, saya anggap santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta keluarganya.” Itu adalah perkataan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari yang memotivasi seluruh warga Nahdlatul ‘Ulama (NU) untuk tetap berkhidmat pada organisasi yang dicintainya. Di mata warga NU, perkataan itu tidak dibatasi ruang dan waktu. Siapa saja yang berkhidmat pada NU sampai akhir zaman ada dalam cakupan dawuh Hadratussyekh.

Kalimat itu pula yang bisa dijadikan pegangan yang membedakan mana yang benar-benar orang NU dan mana yang bukan. Sederhana sekali bukan ?

Mengurusi NU itu bagaimana ? Apakah harus ikut jadi pengurus dalam organisasi ? Afdhol, bagus, alhamdulillah. Mampunya cuma jadi pengamal NU saja, sae, itu pun turut memelihara daya hidup NU agar tetap awet muda.

Lalu bagaimana jika warga ngakunya NU tapi malah ikut gabung sama ormas lain atau parpol ? Hati-hati, ada dua persimpangan jalan. Satu, di ormas atau parpol itu tetap ngurusi NU. Dengan demikian NU memperoleh manfaat dari bergabungnya penjenengan, pangersa, bapak, ibu dan saudara-saudara dalam ormas atau parpol itu. Bahkan malah mampu mewarnai ormas dan parpolnya dengan warna-warna khas NU yang moderat dan santun. Kalau menurut saya, jalan simpang yang satu ini boleh juga dan, mudah-mudahan ada benarnya, termasuk kategori “mengurusi NU”. Kedua, tenggelam untuk kepentingan diri sendiri dan ormas atau parpol yang diikuti dan melupakan NU sama sekali. Ya sudah, apa mau dikata ?

Kembali ke perkataan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, “Siapa yang mengurusi NU, saya anggap santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta keluarganya.” Adalah KH. Ali Maksum (Krapyak) yang menurut saya memberikan penjelasan yang ringkas mengenai apa saja yang perlu dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap NU.

من وصايا المكرم العالم الشيخ محمد على معصوم كرافياك رحمه الله وأفاض لنا من بركاته وعلومه ونفحاته وانواره:

١. العلم والتعلم بنهضة العلماء

Pertama, yakni Pertama, yakni al-‘alimu wat ta’alum bi nahdlatil ulama. Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU.

٢. العمل بنهضة العلماء

Kedua, yaitu setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan (Kedua, yaitu setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

٣. الجهاد بنهضة العلماء

Ketiga, berjihad sesuai dengan ruh Nahdlatul Ulama yang tercermin dalam Rahmatal lil alamin ( (Al-Jihadu bi nahdlatil ulama)

٤. الصبر بنهضة العلماء

Keempat, ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdlatul Ulama (Keempat, ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdlatul Ulama (Ash-Shabru bi nahdlatil ulama)

٥. الثقة بنهضة العلماء

Kelima, setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU (Kelima, setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU (Ats-Tsaqoh bi nahdlatil ulama)

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq,

Kegalauan Bassam Tibi, Kegalauan Kita Semua Bukan ?

Melanjutkan posting lalu tentang mereka yang memperjuangkan islamisme aka politik identitas Islam, mengejar tujuan politik (kekuasaan) dengan cara memperalat Islam. Menarik untuk memperhatikan kegalauan Bassam Tibi mengenai perkembangan Islamisme, sepertinya juga kegalauan kita semua.

“Runyamnya, kini kalangan Islamis memiliki penyokong di Barat baik pada sayap kiri maupun kanan. Mengapa? Sebagian kalangan kiri menafsirkan ulang anti-Westernisme-nya Qutb sebagai antikapitalisme dan kemudian mendukung Islamisme dikarenakan kepercayaan yang keliru bahwa Islamisme merupakan sekutu dalam melawan globalisasi. Sebaliknya, sebagian kalangan konservatif mempersetankan Islam dan Islamisme. Bahkan ketika subjeknya beralih ke “kaum Yahudi”, terutama mereka yang dipercayai menjalankan Wall Street, siapa pun akan terperangah melihat bagaimana orang-orang Eropa—baik yang paling kiri maupun yang paling kanan—akan bersatu dengan kalangan Islamis dalam sikap antisemitisme dan anti-Amerikanismenya. ” Buku Islam & Islamisme – Bassam Tibi

Tidak heran, jika jargon-jargon politik yang menempel sebagai benalu pada islam sangat didukung oleh Barat (sayap kiri dan kanan sekaligus). Barat menjadikan mereka proxy karena ambisi dalam merebut kekuasaan dari pemerintahan yang ada.

Jika dulu mereka mati-matian menjauhkan perlawanan para Kiai dan guru-guru tarekat yang merupakan gerakan keagamaan (Islam) yang berkonsekuensi politis (mengusir penjajah) maka kini mereka merangkul erat gerakan politik yang berkonsekuensi agama (islam) apapun bentuknya, asalkan dalam rangka perebutan kekuasaan, asal menggunakan Islam, asal mudah meraih simpati umat islam dan asal jadi masif akan di dukung Barat.

Padahal Nabi saw diutus untuk menyempurnakan dan mengajarkan akhlak termasuk didalamnya akhlak menjadi pemimpin, akhlak sebagai rakyat, dan akhlak dalam menjalankan pemerintahan apapun bentuknya. Bukan mengajarkan politik (meraih kekuasaan).

—–

Bassam Tibi adalah seorang ilmuwan politik dan profesor Hubungan Internasional. Dia lahir di Damaskus pada tahun 1944. Tibi dan keluarganya pindah ke Jerman pada tahun 1962, dan resmi menjadi warga negara Jerman pada tahun 1964. Dia dikenal sebagai ilmuwan Hubungan Internasional yang mengenalkan Islam dengan tema-tema konflik Internasional dan peradaban. Dunia mengenalnya sebagai pendiri Islamologi yaitu kajian sosial-sains Islam dan konflik pasca politik dua kutub,[1] serta lewat konsepnya tentang Leitkultur dan konsep Euroislam yang menjelaskan integrasi imigran Muslim di negera-negara Eropa.